Jumat, 17 Desember 2010

Kelambu Syari’at


Kelambu Syari’at

Duhai permaisuriku,
Aku melihat yang tak dilihat oleh kasat mata.
Aku mendengar yang tak didengar oleh telinga jasmani.
Aku berkata yang tak dikatakan oleh mulut jasadi.
Aku merasakan apa yang tak dirasakan indera basyari.
 
Duhai permaisuriku
Aku melihat debar asmaramu padaku.
Aku mendengar denting rindumu padaku.
Aku merasakan getaran cintamu padaku.
Aku mencium aroma kasih sayangmu padaku.

Duhai permaisuriku,
Aku ada di relung hatimu berbaring di taman bunga cintamu, mewangi memenuhi ruang hatiku. Aku mendengar gemericik air kerinduanmu, yang mengalir ke dalam bejana kalbuku. Aku mencium senandung romantismu, melalui semilir angin yang membawa gemintang asmaramu kepadaku. Aku merasakan deburan kasih sayangmu, yang membuncah ke dinding jiwaku. Kini ku tak sanggup menahan gelora rindu yang menyelusup disetiap nadi asmaraku.

Duhai permaisuriku,
Akupun berkata dengan nada cinta, kini aku telah lahir kembali dengan romantika baru tuk menyambut cintamu yang mendebarkan, asmaramu yang menggairahkan, kasih sayangmu yang memabukkan

Duhai permaisuriku,
Mari kita berjalan tuk menaiki tangga pelaminan romantika, bergandeng tangan tuk menjalin cinta kasih, berpelukan tuk merekat erat kasih sayang, bercumbu di peraduan hakikat dalam kelambu syari’at dengan selimut rahmat sampai di istana abadi kita, surga.

by cm. hizboel wathony
02 Nopember 2010
tulisan ini ku buat khusus untuk permaisuriku sebagai penyemat cinta kasih kita yang selalu membara membakar pendiangan asmara.

Tidak ada komentar: